Modal Sosial dalam Penanggulangan Kemiskinan di Kab. Konawe Utara

Amos, S.IP.,M,Si

Pendahuluan

Konsep modal sosial (social capital) menjadi salah satu komponen penting untuk menunjang model pembangunan manusia karena dalam model ini manusia ditempatkan sebagai subjek penting yang menentukan arah penyelenggaraan pembangunan. Keberadaan modal sosial juga menjadi penting dalam penanggulangan kemiskinan karena pengentasan kemiskinan tidak hanya terkait dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi, tapi juga perluasan akses terhadap sumber-sumber daya kehidupan yang ditentukan pula oleh ketersediaan jejaring kerja (network) dan saling percaya (mutual trust) di kalangan masyarakat. Apabila berhasil diaplikasikan dengan baik, maka kontribusi terpenting pengembangan modal sosial adalah terciptanya kelompok masyarakat yang semakin mandiri yang mampu berpartisipasi secara lebih berarti dalam mewujudkan good governance atau tata pemerintahan yang baik yang pada akhirnya dapat membantu pemerintah daerah dalam mempercepat proses pembangunan baik pembangunan fisik maupun pembangunan sumder daya manusia secara menyeluruh.

Dimensi modal sosial menggambarkan segala sesuatu yang membuat masyarakat bersekutu untuk mencapai tujuan bersama atas dasar kebersamaan, serta didalamnya diikat oleh nilai-nilai dan norma-norma yang tumbuh dan dipatuhi (Dasgupta dan Serageldin, 1999). Dimensi modal sosial inheren dalam struktur relasi sosial dan jaringan sosial di dalam suatu masyarakat yang menciptakan berbagai ragam kewajiban sosial, menciptakan iklim saling percaya, membawa saluran informasi, dan menetapkan norma-norma, serta sangsi-sangsi sosial bagi para anggota masyarakat tersebut (Coleman, 1999).

Beberapa program yang tengah digalakkan oleh pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan antara lain dengan memfokuskan arah pembangunan pada pengentasan kemiskinan. Fokus program tersebut meliputi 5 hal antara lain pertama menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokok; kedua mendorong pertumbuhan yang berpihak pada rakyat miskin; ketiga menyempurnakan dan memperluas cakupan program pembangunan berbasis masyarakat; keempat meningkatkan akses masyarakat miskin kepada pelayanan dasar; dan kelima membangun dan menyempurnakan sistem perlindungan sosial bagi masyarakat miskin. Dari 5 fokus program pemerintah tersebut, diharapkan jumlah rakyat miskin yang ada dapat tertanggulangi sedikit demi sedikit.

Pembahasan

Berdasarkan pemetaan modal sosial serta pemanfaatannya dalam penanggulangan kemiskinan yang selama ini dilakukan di lingkungan komunitas, terdapat sejumlah karakteristik yang menarik untuk diamati. Karakteristik tersebut adalah:

Pertama, masyarakat Kabupaten Konawe Utara mayoritas cukup terbuka terhadap perubahan. Dengan indikasi sebagai berikut: (1) Pengelompokkan dalam komunitas cukup terbuka terhadap perbedaan diantara mereka, baik perbedaan gender, usia, etnisitas, pekerjaan, latar belakang pendidikan dan tingkat pendidikan; (2) Pembentukan organisasi (kelompok) yang ada di Kabupaten Konawe Utara pada umumnya berdasarkan inisiatif warga dan tokoh masyarakat; (3) Masyarakat Kabupaten Konawe Utara pada umumnya mempercayai orang-orang di lingkungannya, dengan indikasi: anggota masyarakat disekitar lingkungan mereka dapat dipercaya, masyarakat di lingkungan mereka bersedia menolong jika diperlukan; (4) Masih memiliki kesediaan untuk bekerjasama (bergotong-royong) dengan komunitas jika diperlukan, khususnya untuk kegiatan-kegiatan yang menyangkut kepentingan bersama seluruh warga; (5) Ketika ada warga lain yang mendapat musibah (sakit atau meninggal dunia) semua warga akan ikut bekerja sama untuk membantu warga lain yang mendapat musibah tersebut; (6) Akses terhadap informasi dan komunikasi, pendidikan, kesehatan, air bersih, keadilan dan transportasi termasuk tinggi; (7) Kelompok yang diikuti hanya dapat memberikan perluasan akses dalam lingkup bidangnya masing-masing, kelompok yang diikuti responden adalah kelompok-kelompok yang bergerak di bidang kegiatan ekonomi dan produktif; dan (8) Jejaring/ koneksi yang dimiliki masyarakat terbatas, hanya 1 sampai 2 orang yang benar-benar dapat diandalkan untuk membantu dalam kondisi terdesak, baik kerabat maupun orang lain diluar kerabat.

Kedua, Walaupun tampaknya masyarakat cukup terbuka dengan kelompok warga lainnya dari strata yang berbeda, namun pada kenyataannya upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah serta pengembangan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan informasi terbatas pada lingkungan terbatas dan dari strata ekonomi yang sama, sehingga jejaring yang dimiliki belum dimanfaatkan secara maksimal.

Ketiga, orang-orang yang dipercaya oleh anggota komunitas pada umumnya adalah figur-figur yang menjalankan pranata atau norma sosial dan keagamaan, seperti guru, perawat dan dokter, serta tokoh agama. Sementara tingginya tingkat kepercayaan pada orang-orang dari etnis yang sama merupakan kecenderungan yang normal karena kepercayaan juga dibentuk oleh dasar ikatan genealogis dan identitas yang sama.

REFERENSI

Coleman, J.S. (1988). Social capital in the creation of human capital. American Journal of Sociology, 94:95-120.

Mikkelsen, 2003. Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya-upaya Pemberdayaan: Sebuah Buku Pegangan bagi Praktisi Lapangan. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Mubyarto. 2003. ”Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia”. Jurnal Ekonomi Rakyat, Th. 02/ April 2003.

Nugroho, Iwan dan Rokhmin Dahuri. 2004. Pembangunan Wilayah- Perspektif Ekonomi, Sosial dan Lingkungan. Jakarta: Pustaka LP3ES.

Putnam, R.D. (1993). The prosperous community: social capital and public life. American Prospect, 13: 35-42.

Rusli, Said (ed). 1995. Metodologi Identifikasi Golongan dan Daerah Miskin: Suatu Tinjauan dan Alternatif. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Utama dan Institut Pertanian Bogor.

Sahdan, Gregorius. 2005. ”Menanggulangi Kemiskinan Desa”. Jurnal Ekonomi Rakyat. Ekonomi Rakyat dan Kemiskinan, Maret 2005.

Undang-Undang  Nomor  25  Tahun  2000  tentang  Program  Pembangunan Nasional.

Design a site like this with WordPress.com
Get started